Lama-lama aku bergelut di dunia perkaderan, aku mulai capek.
putus asa kah atau apatis, ataukah pemikiran ku sekarang ini adalah sebuah kebenaran.
aku mulai berfikir...
seorang pemimpin itu, tidak di lahirkan di perkaderan.
perkaderan cuma wadah saja.
ada atau tidak perkaderan
dia akan muncul sendiri.
pemimpin ibarat berlian
dan
berlian di dalam lumpur, ia tetaplah berlian.
Sosok-sosok tangguh yang ku kenal dulu, lebih banyak orang yang tertendang dari ibu kandung perkaderannya.
dia berontak ketika dia di tekan
Nyalang menatap dan berteriak lantang
Akan kubuktikan!
sebagai instruktur yang bermain dengan doktrinisasi,
selalu terbius dengan utopia melakukan perubahan budaya.
berusaha mengubah karakter manusia yang bermental sampah, menjadi berlian.
mungkinkah?
kenyataanya sampah..tetaplah sampah
kalaupun sampah bisa di daur ulang
ya...tentu saja lebih banyak menghasilkan sampahnya dari pada yang masih bisa bermanfaat.
daur ulang juga tak menghasilkan benda yang bagus kualitasnya bukan?
pengolahan sampah juga mahal.
hahaha...
kader = sampah?
jangan tersinggung...
lebih baik menjadi sampah dari pada parasit.
di HMI ini cukup banyak yang telah jadi parasit, vampir dan sejenisnya yang lama kelamaan akan menyedot habis apa yang selama ini di jaga dan di banggakan.
Ok.. kembali ke pemimpin
aku menanti..
menati
seorang kader yang ambisius
yang semakin di tendang semakin menatang
semakin di tekan semakin berontak maju!
lama aku menanti itu..
kadang ku lihat sinar mata itu kejap sekejap
tapi dia cepat berlalu...
mungkinkah pemimpin itu sudah enggan lahir dari perut perkaderan ini?
agar para pemabuk di perkaderan itu...
bangun dari tidurnya.
ehm..apa ku sekarang sudah bangun?
Kamis, 06 Maret 2008
Kapan pemimpin itu muncul?!
Diposting oleh
peranita
di
22.01
0
komentar
Label:
curhat
Minggu, 24 Februari 2008
Belajar dari Kaum Miskin
Judul : Bank Kaum Miskin, Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan
Pengarang : Muhammad Yunus
Penerbit : Marjin Kiri, 2007
Tebal : 269 halaman ; 14 x 20,3 cm
Buku ini adalah perjalanan M. Yunus dalam memerangi kemiskinan. M Yunus adalah peraih Nobel Perdamaian 2006. Salah satu yang menjadi nilai lebih M Yunus dari pada kandidat lainnya adalah, perhatiannya terhadap kaum Perempuan. M Yunus dengan Grameen Bank nya memang berbasis kaum perempuan Bangladesh. Berbeda dengan bank pada umumnya yang biasanya mengutamakan laki-laki sebagai peminjam.
M. Yunus adalah seorang profesor Ekonomi, tamatan Amerika Serikat. Dalam buku ini di kisahkan sepak terjangnya semasa kuliah, partisipasinya dalam kemerdekaan Bangladesh meskipun berjuang dari Amerika.
Sepulang dari Amerika, M Yunus di tawarkan di komisi perencanaan pemerintah, tapi M Yunus malah memilih jadi Dosen tahun 1972, di Chittagong University. Disinilah geliatnya di dunia ekonomi mulai muncul. M. Yunus resah dengan kondisi kemelaratan di negerinya. Berawal dari desa Jobra, melalui pemikiran panjang dan bergelut dengan masyarakat, M Yunus kemudian merintis Grameen Bank. Grameen adalah bahasa Bangladesh berarti "Pedesaan", simbol bahwa bank ini adalah milik kaum miskin.
Tekad M Yunus sejak awal adalah mengentaskan kemiskinan. Dan melalui cara yang berbeda dengan ekonom lainnya, M Yunus mencari akar kemiskinan dan berinteraksi langsung ke orang Miskin. Pencarian orang miskin ini menarik, M Yunus mencari orang yang menurutnya benar-benar miskin dan bukan yang merasa miskin. Beberapa contoh perempuan peminjam grameen bank dalam buku ini membuka mata, oh...kemiskinan memang mengerikan.
Kemiskinan dimana seseorang benar-benar tak punya apa-apa kecuali yang melekat di dirinya sendiri. Orang-orang miskin ini bukannya pemalas, tapi memang karena tak memiliki modal berusaha. Bangladesh adalah negeri dngan perekonomian kembang kempis, sering terjadi bencana alam (Indonesia juga?) dan budaya (adat purdah) yang memasung kaum perempuannya.
Buku ini adalah perjalanan M Yunus dan Grameen Bank dalam memerangi kemiskinan. Tidak secara terperinci menjelaskan sistem Grameen Bank. Tapi proses-proses yang dilalui sehingga Grameen Bank menjadi salah satu solusi yang di adaptasi berbagai negara (termasuk negara kaya) untuk mengentaskan kemiskinan.
Secara umum perbedaan Grameen Bank dengan Bank yang ada selama ini adalah:
1. Peminjamnya adalah perempuan. Pada bank konvesional, peminjam adalah laki-laki karena dianggap sebagai kepala rumah tangga. tapi di Grameen Bank justru menganggap peminjam perempuan lebih potensial. Perempuan tidak suka berlama-lama berhutang dan jika perempuan mendapat hasil usaha biasanya di gunakan untuk anak-anaknya, berbeda dengan laki-laki
2. Peminjamnya adalah kaum miskin. Bank biasanya meminjamkan kepada kelas menengah. ada sistem agunan untuk menghindari terjadinya tunggakan pinjaman. Tapi Grameen Bank beragunkan kepercayaan.
Pada prinsipnya Grameen Bank sendiri tak jauh berbeda dengan koperasi simpan pinjam yang di perkenalkan M Hatta di Indonesia. Prinsip yang mengutamakan kesejahteraan anggotanya. Hanya saja Grameen Bank lebih populer. Mungkin karena dirintis dengan serius oleh M Yunus dan di bangun di negara yang kompleks persoalan kemiskinannya.
Grameen Bank di Bangladesh tak hanya memerangi kemiskinan tapi mendobrak budaya yang selama ini memasung kaum perempuannya. Dan inilah nilai plus perjuangan M Yunus.
Sebuah kutipan menarik dituliskan M Yunus dalam pendahulun bukunya, Kaum miskin mengajarkan saya ilmu ekonomi yang sepenuhnya baru.
Ah..kata-kata ini adalah konsep pemberdayaan masyarakat.
Satu hal yang juga menarik adalah bahwa : Memberdayakan Perempuan tak harus dilakukan oleh perempuan. Adakah perempuan seulet M Yunus?
Read More..
Diposting oleh
peranita
di
13.01
0
komentar
Label:
Rak Buku
Minggu, 20 Januari 2008
Burned Alive, benarkah kisah nyata?

Aku suka mengumpulkan buku-buku yang berbau ketidak adilan gender. Dan tak heran jika buku ini juga kukoleksi.
Hmm...tentang buku ini.
Buku ini berkisah tentang kisah seorang perempuan cantik bernama Souad di Palestina. Ia jatuh cinta dan terjebak dalam kenyataan dia hamil di luar nikah. Sang lelaki tak bertanggung jawab dan...terjadilah pembakaran terhadap dirinya..hidup-hidup.
Aku baru tahu dari novel ini bahwa ada budaya di timur tengah sana yang membakar anak perempuannya sendiri. Benarkah nyata? masih tanda tanya bagiku. Tak baik menerima suguhan novel secara bulat-bulat, meskipun mengaku dari sebuah kisah nyata.
Aku masih mencari kebenaran budaya ini...
Tapi yah...aku jadi heran juga, sebuah steorotip jadi muncul di kepalaku. Wilayah ini tempat berasalnya 3 agama besar, tapi juga tempat tertumpahnya darah hingga kini. Juga tempat dimana kaum perempuan sangat...sangat tak dapat menentukan hidupnya sendiri (menurutku).
Membaca novel ini memang bikin miris. Kok bisa ada budaya yang sekeji itu.
Namun menjelang akhir buku ini aku sedikit kecewa.
Novel ini kurang mengupas di wilayah konflik batin Souad untuk hidup. Perjuangannya dalam mengadaptasi budaya yang sangat berbeda. Perjuangannya menjadi mampu baca dan tulis serta berbahasa perancis, dan....terutama kisah perjalanan cintanya hingga berumah tangga pasca pembakaran dirinya.
Kok terkesan mudah sekali?.
Aku jadi merasa ada penggambaran yang sangat kontras antara eropa dan timur tengah.
Seolah mengejek dan berkata..lihatlah di eropa, laki-laki tak melihat perawan atau tidak, bahkan cacat atau tidak.
Tak seperti timur tengah, yang harus membakar para perawan yang tak perawan.
tak heran aku jadi curiga..ada sesuatu di balik buku ini.
Diposting oleh
peranita
di
23.37
2
komentar
Label:
Rak Buku
Selasa, 15 Januari 2008
Sokola Rimba, karena semua berhak mendapat pendidikan

Kenal dengan Butet Manurung?. Cewek Batak yang namanya melambung sejak kompas memuat fotonya di pedalaman rimba Jambi sedang mengajar anak-anak rimba.
Akhirnya, pengalamannya itu diabadikan dalam sebuah buku Sokola Rimba.
Membaca buku Sokola Rimba benar-benar berkesan.
Menurutku Butet mengisahkannya dengan penuh cinta.
Butet menyuguhkan kehidupan Rimba bukanlah sebuah dunia yang tidak nyaman tapi INDAH.
Indah karena kesederhanaanya, keluguannya, struktur masyarakatnya, keteguhannya dengan adat dan rimbanya.
Yang sangat menarik soal budaya orang rimba adalah sistem matrilinear yang dianutnya.
Laki-laki sebelum menikah di magangkan dulu di rumah calon mertuanya, bekerja, berburu dll. Setelah 3 bulan, jika calon mertua tidak senang, si Laki-laki bisa dipulangkan ke kampungnya.
Laki-laki rimba juga sangat terjaga syahwatnya dan dan sangat bangga dengan posisinya sebagai pelindung dan pencari nafkah keluarganya.
Laki-laki gak akan marah-marah kepada istrinya, secerewet apapun istrinya, justru jika istri yang tidak cerewet dianggap bukan istri yang baik...(lo kok? cucok banget ma tipe ku nih...hihihi)
Yang membuatku terharu, Butet mengajak untuk memandang orang rimba bukan dengan menganggapnya orang yang aneh selayaknya orang-orangan di sirkus, tapi kelompok manusia yang berhak memilih hidup di hutan atau di dunia terang.
Membaca buku ini jadi ingin merasakan dunia Rimba itu.
Membayangkan konsep yang tergambar dari keresahan Butet terhadap pendidikan orang rimba, aku jadi terbayang film flinstone, kehidupan jaman batu tapi ya...modern. Boleh aja tinggal di Rimba (malah asyik), tapi pemikiran tetap global...ya..gitu deh. benar gak Butet?
Diposting oleh
peranita
di
23.08
0
komentar
Label:
Rak Buku,
tokoh
Sabtu, 29 Desember 2007
Selamat Jalan, Benazhir Bhutto

Nawaz Sharif, mantan perdana menteri dan lawan politik Bhutto, mengatakan kematian pemimpin oposisi itu adalah tragedi bagi "seluruh negeri". Dia salah. kematian Bhutto adalah tragedi bagi "seluruh dunia".
Diam-diam banyak mengagumi tokoh yang pernah menjadi perdana mentri pakistan, sampai dua periode ini. Kamis, 27 Desember 2007, kematian menjemputnya dengan 2 peluru dan ledakan Bom. Seluruh dunia berduka. Kehilangan sosok perempuan yang muncul dari negeri yang begitu ketat mengatur perempuan dari dunia publik.
Benazhir Bhutto adalah simbol perjuangan demokrasi di negaranya dan inspirasi bagi perempuan dunia. Apakah kematiannya adalah pertanda, perjuangan demokrasi akan lantak di negeri militerisme dan dekat pengaruh taliban tersebut?.
Tak heran jika Megawati pun merinding. Indonesia sedang mengarah kesana.
Diposting oleh
peranita
di
01.06
0
komentar
Label:
tokoh
Jumat, 21 Desember 2007
Katak dan Gender

Ada analogi yang berkesan yang kudapat dalam pelatihan PFPM yang lalu.
Analogi Katak dalam Bejana.
Andai ada 2 bejana yang dipanaskan diatas tungku api. satu bejana kosong dan satunya lagi di isi oleh air. pertanyaannya...jika katak masuk ke ke dua bejana tersebut, di bejana manakah katak akan mati terlebih dulu?
Jawabannya katak akan mati lebih dulu di bejana yang kosong. karena panas bejana akan langsung memanaskan kulit Katak. Sedangkan di bejana yang berisi air, Katak akan mati perlahan-lahan, seiring dengan air yang semakin panas. Katak bisa saja melepaskan diri jika dia segera keluar dari bejana yang berisi air tersebut. Tapi di bejana yang kosong, katak kemungkinan besar akan mati.
Ketidak adilan gender, seperti katak dalam bejana yang berisi air yang dipanaskan. Untuk beberapa saat Katak akan merasa nyaman karena dia berada di komunitas air yang merupakan habitatnya. Tapi tanpa dia sadari, sebenarnya tempat itu tidak layak lagi. Jika tak mampu berpindah ke tempat yang lebh baik, tentu saja katak itu akan mati terebus.
Ketidak adilan Gender sering dianggap bukan masalah, terutama bagi pihak yang merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Meski yang lebih sering dirugikan adalah kaum perempuan, tapi banyak juga kaum perempuan yang merasa nyaman dengan ketidak adilan yang dialaminya. Contoh yang paling ekstrim mungkin dalam kekerasan dalam rumah tangga. Toleransi terhadap kekerasan yang dialami perempuan, jika dibiarkan terus menerus akan menjadi hal yang dianggap wajar. Perempuan korban kemudian merasa tak berani, kehilangan kepercayaan diri.
Perempuan sering berada di posisi katak dalam bejana air yang dipanaskan ini. Pemberdayaan kaum perempuan sering justru terkendala karena kaum perempuan yang merasa nyaman dengan kondisi yang sebenarnya tak berpihak pada perempuan. Bahwa perempuan adalah mahluk lemah dan harus dilindungi dianggap sebagai sebuah kewajaran, dan banyak lagi. Ini sebenarnya tantangan dalam pemberdayaan perempuan. Membuka mata kaum perempauan bahwa ada realitas ketidakadilan yang dihadapi perempuan. Bahwa ada api yang mengancam diluar bejana air yang nyaman tersebut. Api itu bernama ketidak adilan.
Diposting oleh
peranita
di
00.02
0
komentar
Senin, 26 November 2007
SHARE
Diposting oleh
tessa simahate
di
15.58
2
komentar
Rabu, 31 Oktober 2007
Cristina Fernandez de Kirchner : Kembalinya legenda Evita Peron

Pernah mendengar nama Evita Peron?. Nama ini diabadikan oleh Madonna dalam film berjudul sama dengan nama tokoh ini, Evita Peron. Evita Peron adalah istri kedua Presiden Argentina Juan Domingo Perón (1895–1974). Namanya menjadi legenda di Argentina bahkan intenasional karena Kekuatan politiknya dan keberpihakan kepada kaum miskin Argentina. Meskipun ia tidak pernah secara resmi terpilih menjadi tokoh politik, sebagai Ibu Negara ia akhirnya memiliki lebih banyak kekuasaan dan pengaruh dalam pemerintahan daripada siapapun, kecuali suaminya.
Pemilihan umum Argentina pada 28 Oktober 2007 yang lalu seorang perempuan yang kuat muncul kembali di Argentina. Kali ini bukan sekedar Istri Presiden saja, tapi menggantikan posisi suaminya Néstor Kirchner menjadi orang nomor satu di Negaranya, sekaligus menjadi wanita pertama yang menjadi presiden dalam sejarah Argentina. Dia adalah Cristina Elisabeth Fernández de Kirchner.
Fernandez adalah seorang pengacara dan senator yang mengikuti jejak suaminya, naik dari posisi gubernur yang tidak dikenal ke kursi kepresidenan, sehingga banyak yang membandingkannya dengan Senator Hillary Rodham Clinton. Dia bakal membawa gaya yang lebih agresif dan lebih glamour ke Gedung Merah Muda, istana kepresidenan Argentina, tempat dia menghabiskan waktu selama empat tahun terakhir.
Dengan sebagian besar suara telah terhitung, Nyonya Kirchner memperoleh 44,6% dari seluruh suara.
Saingan terdekatnya adalah mantan anggota parlemen,mantan ratu kecantikan, Elisa Carrio, yang mengakui kekalahan dengan 22,6% suara dan mantan Menteri Keuangan Roberto Lavagna mendapat 19% suara, menurut hasil sementara.
Suaminya, Nestor Kirchner memerintah Argentina selama empat tahun ini,Suami Fernandez, Presiden Nestor Kirchner, naik ke tampuk kekuasaan saat goncangan ekonomi melanda Argentina pada 2001, namun membuat kejutan dengan menyatakan dia tidak mencalonkan diri. Keberhasilannya menjadi presiden diduga karena dukungan istirinya Cristina Fernández, sebagaimana Eva Perón menjadi senjata rahasia Juan Perón.
Cristina Fernández dikenal karena lidahnya yang tajam dan penampilannya yang glamor. Seperti Evita, Cristina lebih suka tampil dengan suaminya. Di tempat asalnya (Santa Cruz), ia dikenal karena pidatonya yang panjang dan berapi-api. Ia dijuluki "Panther Patagonia" dan dikatakan mempunyai pengaruh yang sangat kuat atas suaminya. Senat mempercayainya karena suaminya berhasil membuktikan perbaikan ekonomi sejak memimpin Argentina pada tahun 2003.
Kemenangan Perempuan di Argentina menambah deretan presiden perempuan di dunia. Dan tentunya kepemimpinan mereka akan menjawab tanda tanya bahwa:
1. Memang berbedakah gaya kepemimpinan Perempuan dan laki-laki?.
2. Benarkah mereka muncul sebagai presiden, karena kekuatan dirinya atau lebih karena membonceng kekuasaan orang-orang sekitarnya, mengingat banyak presiden perempuan muncul karena nama besar Ayah atau suaminya.
We will see...
Diposting oleh
peranita
di
06.19
1 komentar
Label:
tokoh
Selasa, 16 Oktober 2007
Siapakah Adinegoro?
Alimbas, Adinegoro lima belas, sebutan lain sekretariat HMI cabang Medan dan HMI Badko Sumut yang beralamat di Jl. Adinegoro no 15 Medan. Sampai-sampai Alimbas di abadikan dengan sebuah lagu yang selalu dinyanyikan setiap Latihan Kader I.
Meski lagu ini sering dinyanyikan, bisa dipastikan kader HMI tak banyak yang tahu siapa Adinegoro. Berikut uraian biografinya, yang juga menjadi inspirasi dalam menentukan nama blog ini. 
Adinegoro adalah tokoh Pers Nasional. Nama aslinya adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sutan. Lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada tanggal 14 Agustus 1904. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu.
Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di Stovia ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Maka, dipakainyalah nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru. Ia pun bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin.
Tulisannya dikenal karena mudah dibaca, populer, tajam, dan mudah dipahami meski pembaca bukan berpendidikan tinggi. Tahun 1931 setelah kembali dari sekolah di Eropa Adinegoro bekerja di Balai Pustaka dan memimpin koran Pewarta Deli di Medan.
Pada masa Jepang Adinegoro memimpin the Sumatera Shimbun daily. Setelah menjabat sebagai General Department Chief of Sumatera Chūō Sangi Kai, adinegoro pindah ke Bukittinggi. Setelah proklamasi kemerdekaan, Adinegoro menjabat sebagai Head of Sumatera National Committee. Dia mengajurkan masyarakat Sumatra untuk mengambil alih pemerintahan dari Jepang, dan medeklarasikan kemerdekaan dengan pemimpin lokal.
Adingoro juga mendirikan kantor berita Antara cabang Sumatera.
Pada 1947 kesehatan Adinegoro menurun, dan pindah ke Jakarta. Ketika kesehatannya mulai pulih, Adinegoro mulai menulis di Harian Waspada, Medan, dan Mimbar Indonesia.
Dalam dunia pers, Adinegoro dikenal sebagai guru yang peduli pada kaum muda. Adinegoro adalah pendiri Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta and Fakultas Komunikasi di Universitas Pajajaran, Bandung.
Karya-karya Adinegoro
Novel
1. Darah Muda. Batavia Centrum: Balai Pustaka. 1931
2. Asmara Jaya. Batavia Centrum: Balai Pustaka. 1932.
3. Melawat ke Barat. Jakarta: Balai Pustaka. 1950.
Cerita pendek
1. “Bayati es Kopyor”. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961, hlm. 3—4, 32.
2. “Etsuko”. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961. hlm. 2—3, 31
3. “Lukisan Rumah Kami”. Djaja. No. 83. Th. Ke-2. 1963. hlm. 17—18.
4. “Nyanyian Bulan April”. Varia. No. 293. Th. Ke-6. 1963. hlm. 2-3 dan 31—32.
Sumber:
1. Wikipedia
2. http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id/
Diposting oleh
peranita
di
10.45
0
komentar
Label:
tokoh
Minggu, 14 Oktober 2007
Silat Lidah (Perempuan)

Hmm...buat yang suka nongkrongin TV malam-malam, kayaknya bisa comment tentang acara ini deh...
Acaranya di An-TV tiap malam (ada yang bisa tambahi jadwalnya kapan aja?)
aku gak gitu suka nonton TV, tapi kebetulan adikku mindahin channel TV ke acara yang awalnya terkesan unik, tapi cepat ngebosenin. Aku penasaran tanggapan sesama perempuan terhadap acara ini. ada yang bisa bantu?
Nggak jelas sebenarnya konsep acara ini, sepertinya memang lebih menonjolkan kebawelan perempuan, ngomong asal dan gak ada isi, walaupun terkadang to the point, jujur, apa adanya.
Panelis nya selalu perempuan, dan dari profesi yang berbeda. Kontras bo...antara Julia Perez(yang suka disebut seksi, ngadalin fisik) dengan Ratna Sarumpaet(yang lebih dikenal dengan aktivis perempuan, ngandalin otak). Seolah panelis-panelis itu adalah wakil dari dunia yang digeluti perempuan yang punya garis merah yang sama...bawel!.
Materi diskusinya, biasanya tentang kehidupan sehari-hari. Selingkuh dengan saudara tiri (heh?), Etika mentraktir cewek (?). Entahlah...mungkin karena bahasannya ini yang bikin gak ku gak minat....kusebut: dunia yang sempit!.
Acara ini juga bising banget....sepertinya Irwan sang moderator sengaja membiarkan kebisingan ini sebagai ciri khas...ehm ciri khasnya perempuan?.
Pertama nonton melihatnya lucu aja...fresh..tapi huahhh boring dah....Mak..mak kaleee!
Di satu sesi...kebetulan bintang tamunya adalah Ibu kandung Irwan. Dan komentarnya pedas bo....ibunya bilang:
"Saya bangga dengan Irwan, tapi acaranya melecehkan perempuan, Ibu tak pernah mengajarkan itu pada Irwan".
Glek...malunya....
Well...sebenarnya bisa dikemas lebih bagus lagi acara ini. Panelisnya diganti-ganti biar gak ngebosenin, karena yang sekarang terkesan maksa, dengan opini-opini yang lama-lama bisa ditebak dari mereka.
Kalaulah memang silat lidah ini ingin mengorek habis dunia perempuan, ya..coba lebih luas deh...Mulut perempuan kadang ampuh juga untuk ngelawan para pamong praja di pasar hehehe.
Akan lebih bermanfaat jika mengangkat tema-tema yang lebih empati sosial.
panelisnya sekali-kali berupa interview perempuan di realitas. biar lebih Fresh!. Sekalian acara ini bisa jadi refleksi sejauh mana silat lidah perempuan pada issu-issu sosial atau...mungkin politik?.kenapa tidak?
Diposting oleh
peranita
di
08.43
1 komentar
Label:
opini
Rabu, 10 Oktober 2007
Perempuan menulislah!
Siapasih yang tidak kenal dengan JK. Rowling…Penulis Harry Potter yang imajinatif. Perempuan terkaya didunia karena tulisannya.
Di Indonesia, siapa yang tak kenal sederet penulis perempuan yang menulis tentang apa saja. Siapa yang tak kenal Kartini, yang didaulat menjadi pahlawan Nasional, pejuang kaum perempuan dan diabadikan dalam lagu ibu kita kartini,. Keabadiannya hanya karena TULISAN, meski tulisan yang tak sengaja di publikasikan ke masyarakat, tapi tulisan untuk para sahabatnya.
Tulisan memang lebih mengabadi dari pada ucapan. Itulah sebabnya, masyarakat lebih kenal sederet tokoh menjagkau lebih lama dari masa hidup tokoh itu sendiri, dibandingkan para anggota DPR yang nota bene wakil dari suara nya, hanya karena namanya tertulis, karyanya tertulis dan di baca tanpa batasan ruang dan waktu.
Seperti Soekarno yang menelurkan beberapa buku. Pemikirannya akan tetap terbaca oleh para penerus bangsa. Marhaenisme akan diteruskan karena buku menjadi benang merahnya. Pramis akan tetap ada karena buku-bukunya (tulisannya) ada.
Seperti Ahmad Wahib yang usianya hanya tak sapi kepala tiga, namun karyanya merubah sudut pandang banyak orang.
Seperti Wiji Thukul, yang hilang lenyap ditelan bumi, tapi bumi tak mampu melenyapkan puisi sederhananya yang menggigit.
Tak mengherankan ketika komnas perempuan menganjurkan aksi perempuan menulis. Karena kekuatan menulis, menembus batas waktu dan ruang. Meski perempuan terkurung oleh tembok rumahnya, selama pemikirannya tertulis, kelak tulisan itu mampu menembus batas ruang dan waktu.
Cobalah simak puisi tentang korban kekerasan dalam rumah tangga di bawah ini…
Jangan Kirimi Aku Bunga
Oleh: Tidak Diketahui
Aku mendapat bunga hari ini.
Meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar
Dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirimi aku bunga.
Aku mendapat bunga hari ini.
Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku.
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia mengirim bunga padaku hari ini.
Aku mendapat bunga hari ini,
Padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain.
Semalam ia memukul aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya.
Aku tidak punya uang. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.
Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa... inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini...
Dalam puisi sederhana ini, siapapun bisa memahami bagaimana kondisi KDRT. Disinilah sebuah ide, sebuah realitas tersampaikan. Rangkaian huruf yang mampu menggugah kemanusiaan.
Maka Perempuan, Mulailah dengan menulis apa saja. Sederhana bukan?!. Telah banyak contoh mereka yang melakukannya, dan tak sia-sia di masa depannya. Kenapa kita tidak memulainya sekarang?!
Diposting oleh
peranita
di
07.58
1 komentar
Senin, 01 Oktober 2007
SOEHARTO
By Tessa Simahate
Soeharto, mendengar nama ini seluruh rakyat Indonesia dan penduduk dunia mengetahui bahwa ia adalah salah satu pimpinan negara besar. Bapak yang satu ini memimpin negara Indonesia dalam jangka waktu cukup lama yaitu 32 tahun dan terus terpilih dalam beberapa kali pemilihan umum dengan perahu besarnya yang bernama golkar.
Pada tahun 1998 seorang soeharto jatuh dalam tuntutan yang disuarakan oleh golongan muda Indonesia secara serentak di seluruh daerah di Indonesia, mulai dari saat itu hidup soeharto tidak lagi tenang seperti sediakala. hujatan, makian, justifikasi, terus mendera dirinya baik dari masyarakatnya maupun masyarakat internasional. Bahkan institusi sekelas PBB dan bank dunia yang harusnya concern terhadap ekonomi dan kemanusiaan mengeluarkan statement yang tidak pada tempatnya, bahwa PBB adalah institusi dunia yang concern terhadap semua permasalahan yang di hadapi bangsa-bangsa itu memang menjadi tugasnya tetapi PBB sebagai suatu institusi tidak berhak mengeluarkan statement tentang kekayaan pribadi seorang pimpinan atau bekas pimpinan suatu bangsa dimana pada saat yang berasamaan tuntutan yang dilayangkan soeharto pada majalah ‘time’ asia yang mengulas tentang kekayaan pribadi soeharto pada artikel yang berjudul ‘family firm empire’ telah dimenangkan oleh pengadilan tinggi dan majalah kelas dunia ini harus membayar ganti rugi pada pihak soeharto sebesar 2 milyar rupiah.
Terlepas dari semua itu soeharto hanyalah seorang manusia, seorang suami yang ingin membahagiakan istrinya, seorang ayah yang ingin membahagiakan anaknya, seorang kakek yang tidak ingin cucunya kekurangan apapun, seorang abang yang ingin adiknya hidup berkecukupan, tetapi pada saat yang sama dia harus menjadi seorang presiden dan bapak negara yang harus memikirkan kelangsungan hidup masyarakatnya, mengentaskan kemiskinan yang berhasil di tekan menjadi 11 % pada masa pemerintahannya, melanjutkan pembangunan yang sedang di upayakan negara, menjaga agar negara yang secara geografis besar ini bisa tetap menjadi negara besar tidak saja geografisnya tetapi juga sumbangsihnya terhadap dunia, menjaga nama baik negara di hadapan dunia dan lebih dari itu sebagai bapak negara presiden di tuntut menyelesaikan permasalahan negara yang semakin kompleks pada saat itu.
Apakah masyarakat Indonesia tidak melihat sisi baik dari seorang soeharto, apakah hanya karena nila setitik rusak susu sebelanga, toh negara Indonesia tidak pernah semakmur pada saat soeharto memerintah, masyarakat Indonesia harus belajar pada sejarah rusia yang menjatuhkan tsarnya yang dianggap tidak memimpin dengan baik dan ternyata pasca kejatuhan tsar tersebut rusia pun tidak pernah lagi semakmur dan sedamai pada saat tsar tersebut memimpin dan rakyat rusia menyesali hal tersebut. Jika Indonesia tidak menginginkan kejadia serupa maka maafkanlah seorang soeharto, sebagai pribadi, sebagai masyarakat dan sebagai korban penyelewengannya.
Diposting oleh
tessa simahate
di
09.20
3
komentar
Senin, 24 September 2007
PERAWAN REMAJA dalam Cengkraman MILITER

Diakibatkan oleh kondisi ekonomi pada masa pemerintahan penjajahan Jepang di Indonesia sangat banyak terjadi penindasan terhadap hak azasi manusia kaum perempuan. Pramoedya menghadirkan sebuah buku yang berisikan pengalaman pada saat melakukan pelayaran dipulau Buru. Banyak peristiwa-peristiwa memilukan, menyedihkan dari prilaku Jepang dipulau ini dan ketika kita membacanya maka kita akan merasa terharu, kita merasa berada dalam pristiwa itu.
Hasil karya ini merupakan sebuah pesan bagi kaum perempuan yang disusun berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Pada tahun 1943 tentara sekutu menjajah sebagian besar tanah air termasuk pulau Jawa. Tentara sekutu mengiming-imingkan janji indah pada masyarakat yang tertuju pada perawan Remaja di pulau Jawa didukung oleh kondisi ekonomi yang semakin pelik maka dengan mudahnya menerima janji indah dari tentara sekutu dimana tentara sekutu berjanji akan melanjutkan sekolah mereka di Jepang. Namun pada kenyataannya perempuan remaja Indonesia yang dibawa berlayar dipulau Buru bukun ke Jepang dan mereka dijadikan budak seks tentara sekutu.
Banyak korban yang bertemu pada Pramoedia dipulau Buru dan sebagian besar dari mereka menceritakan kisah mereka. Sumiati, Sutina, Sulastri, Suarti, Fatimah, dan masih banyak perempuan lain yang terlantar di pulau Buru tersebut bahkan sampai berumur tua, ada juga yang sampai menghabiskan derita hidup.
Masih adakah perempuan tawanan Jepang dipulau Buru saat ini ?
Apakah nama-nama yang disampaikan Pramoedia adalah saudara kita ?
Apakah penyebab ikutsertanya perempuan remaja Indonesia pada tentara Jepang ?
Bagai mana nasib mereka dipulau Buru tersebut ?
Apa yang dilakukan Pramoedia ketika menyaksikan peristiwa dipulau Buru ?
Temukan jawabannya pada buku “perawan remaja dalam cengkeraman militer” karya Pramoedia Ananta Toer.
Buku ini menggambarkan kisah hidup tragis dan perjuangan perlawanan kaum perempuan Indonesia dalam mempertahankan harga diri dan hak.
ditulis oleh :
Ningsih (ning_ozie@yahoo.com)
Bendahara Umum KOHATI HMI cabang Medan
Diposting oleh
peranita
di
06.14
1 komentar
Label:
Rak Buku
Rabu, 12 September 2007
Anita Roddick, pengusaha yang aktivis

The Body Shop, perempuan mana yang tidak tahu merek kosmetik ini. Selain kualitas bagus, mahal, merk ini terkenal karena ramah lingkungan.
Pendiri The Body Shop ini baru saja meninggal di usianya yang ke-64,tepat tanggal 10 september 2007 yang lalu. Namanya Anita Roddick.
Seorang ibu rumah tangga dari london ini mengawali usahanya dari sekedar iseng, dari nol dan tanpa memilliki keahlian khusus. Suaminya hanya menyarankan agar dia menyisihkan 300 pounds seminggu sekali.Usaha yang berawal dari garasi rumahnya kemudian berkembang pesat hingga menjadi kerajaan bisnis dengan dua ribu toko yang melayani 77 juta konsumen di 51 negara.
Meninggalnya Ia menjadi sebuah kehilangan besar sosok perempuan yang banyak memberikan sumbangsih pada dunia.
Melalui The Body Shop, Anita Roddick mengkampanyekan kepedulian pada lingkungan hidup. Anita dijuluki "Queen of Green" karena dia berhasil menciptakan produk kosmetik yang dianggap ramah lingkungan. Pengalaman keluarganya selama perang dunia II, mengilhaminya untuk membuat produk daur ulang dan ramah lingkungan.
Ia juga penentang pelanggaran HAM melalui kampanye Stop Violence in the Home.
the body shop di Indonesia adalah salah satu pionir dalam membantu kegiatan yang
berhubungan dengan pencegahan hiv/aids, ketika banyak orang masih tabu
membicarakan virus ini secara terbuka pada awal tahun 90an . Tbs juga turut
memberi sumbangan, ketika banyak sekali perusahaan yang takut, bahkan
turut sabotase kampanye anti korupsi beberapa tahun lalu.
Semoga sepak terjang kehidupannya bisa menginspirasi perempuan sedunia, untuk perduli pada lingkungan, dan kemanusiaan.
Diposting oleh
peranita
di
22.44
0
komentar
Label:
tokoh
For Your Information... Untungnya Ga Cuma Kita!!!
Masih Ingat ga ??
salah satu iklan jamu pereda nyeri Haid
yg bunyinya kira kira begini..
"untungnya cuma kita(^o^)"
(iklan kiranti !!)
Well,,,,
For Your Information
ternyata ga cm kita (baca:cewek)
cowok jg ngalami tuh yg namanya gejala2
PMS
kayak perut kram, dan mood naik turun,
dan emosi mudah tersulut
tapi namanya beda
namanya
gejala
Irritable Male Syndrom (IMS)
menurut JEd Diamond,
ahli psikoterapi dan penulis
The Irritable Male Syndrome:MAnaging The
4key Causes Male Depression and Agression,
menjelaskan
IMS adalah
keadaan di mana seorang pria secara
emosional sangat sensitif,
gelisah, seringkali marah
Suatu keadaan yang mirip dengan gejala
PMS para cewek
Makanya, para ahli
mengatakan IMS ini sebagai PMS nya para
cowok (^o^)
studi lain yang dilakukan Dr Aimee
Aubeeluck yg dipresentasikan di BRitish
Psychologycal Society's Division of
Healthy Psychological Annual Conference
menemukan bukti bahwa cowok mengalami
IMS dengan gejala yang mirip dengan PMS.
menurut studi itu, cowok mengakui adanya
perasaan antisosial dan kehilangan
konsentrasi, depresi, mudah naik pitam,
sakit seperti KRAM PERUT, sakit punggung
dan sakit kepala yang terjadi secara
rutin pada saat saat tertentu
seorang ahli neurologi DAvid A. Goodman
mengatakan bahwa lelaki mempunyai versi
tersendiri tentang PMS, jika siklus PMS
cewek adalah 28 hari, sementara SIKLUS
COWOK BISA LEBIH CEPAT ATAU LAMBAT
BISA 30 JAM ATAU 34 HARI.
Itu dikarenakan siklus hormon testoteron
memang beda dengan hormon progesteron
[PAling tidak ini sedikit menjelaskan
Kebiasaan para adam yang hobi naik darah
saat berlalu lintas :P ]
Jadi
dengan berat hati (^o^)
saudara2
dengan ini diumumkan
bahwa iklan itu ga bener
meskipun sekarang iklannya
uda ga tayang lagi
harusnya bunyi tag line nya
Untungnya (?!)
Ga Cuma KITA gitu lho!!!
(^o^)
Diposting oleh
P@!M@
di
14.04
0
komentar
Minggu, 09 September 2007
The Kite Runner : kisah penebusan dosa

Kite Runner, atau pengejar layang-layang.
Sebagai buah karya pertama Khaled Hoseini, patut diacungi jempol, karena buku ini memuat banyak filosofi kehidupan dengan penyampaian yang mengalir dan tak menggurui.
Berkisah tentang perjalanan hidup Amir sejak kecil hingga dewasa. Dengan seting Afganisatan sebelum, pada dan sesudah masa taliban. Amir bukanlah seorang anak pemberani dan mandiri ketika kecil, haus kasih sayang ayah yang sangat maskulin.
Beberapa tindakan Amir kala masa kecilnya, kadang juga kita lakukan, membuat kita berkaca betapa kadang kita juga mencuri.
Mencuri. Satu-satunya bentuk kejahatan yang berulang-ulang disindir dalam buku ini. Semua sumber kejahatan adalah mencuri. Ketika seseorang berbohong, maka sesungguhnya Ia mencuri kesempatan orang lain untuk mendapat kebenaran.
Buku ini bercerita bahwa meski sederet dosa dilakukan, hal tersebut adalah sebuah kewajaran sebagai manusia, tak perlu menghukum diri seumur hidup dengan lari dari kenyataan sebenarnya. Amir melarikan diri dari rasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan Hassan, sahabat setianya (yang belakangan adalah saudara tirinya). Namun kembalinya dia ke afganistasn membuatnya harus melakukan perubahan besar terhadap dirinya sendiri. yaitu menebus rasa bersalahnya dengan menyelamatkan anak Hassan dari keganasan perang Taliban.
pesan yang sangat kusuka dari buku ini adalah:
saat rasa bersalah menggerakkan seseorang melakukan kebaikan itulah penebusan dosa sejati.
Ayah amir memang melakukan kesalahan dengan menutupi keberadaan istri pertamanya, dan hassan sebagai anak kandungnya, namun dia berusaha menebusnya dengan mendirikan panti asuhan dan perbuatan amal baik. karena toh..masa lalu tak akan bisa di ulang kembali.
Hal itulah pelajaran terakhir yang di pelajari Amir dari Ayahnya, dan dia meneruskannya dengan jujur pada dirinya sendiri.
Membaca buku ini aku sampai menangis, terutama pada gambaran kekejaman taliban, ketika Amir kembali ke afganistan, sangat menyedihkan. Perbandingan antara gambaran afganistan di masa kecil Amir, dan ketika masa taliban, membuat pilu.
bagaimana bisa sebuah motivasi untuk menegakkan agama yang Rahmatan alamin bisa begitu penuh darah. . Menghacurkan peradaban dengan sehancur-hancurnya.
Kenapa judulnya pengejar layang-layang?
Pengejar layang-layang adalah garis merah dalam cerita ini. Budaya bermain dan mengejar layang-layang adalah simbol dimana suatu masa, afganistan tidak memperdulikan ras dan agama, syiah atau sunni, tetapi hanya sebuah kebersamaan, kegembiraan.
Sebuah masa dambaan seorang Amir...dan kupikir juga masa-masa yang didambakan banyak orang.
Diposting oleh
peranita
di
08.47
0
komentar
Label:
Rak Buku
Jumat, 07 September 2007
C I N T A
apa arti sebenarnya dari kata ini?
Apa cirinya?
Ketika cinta ini menyapa maka semua terasa indah, tetapi ketika cinta berlalu maka semua akan menjadi mimpi buruk?
Untuk apa cinta ini sebenarnya? Apakah hanya berupa proses atau sendi kehidupan yang tidak bisa terpisahkan dari diri seorang manusia.?
Kenapa jika cinta yang satu tumbuh itu akan membunuh cinta yang lain,?
Kenapa seseorang tidak bisa mencintai orang – orang sekelilingnya tanpa harus mengorbankan satu cinta?
Kenapa orang ynag mengalami proses ini sering kali terlihat egois,?
Kenapa ini terjadi pada semua orang, semua zaman, semua bangsa tanpa terkecuali?.
Bagi sebagian orang kenapa mencintai tidak bisa hanya mencintai tanpa harus berfikir siapa dia, siapa leluhurnya, siapa keluarga besarnya?
Kenapa bagi sebagian orang mencintai harus menjadi beban yang sangat berat sehingga memutuskan untuk tidak mencintai lagi?
Kenapa terkadang cinta dijadikan alat untuk meraih kekuasaan?
KENAPA………..?????
Diposting oleh
tessa simahate
di
09.36
1 komentar
Mbah Ndut - Epilog
Mbah Ndut - Epilog
July 26th, 2007
Semula saya curiga, suami-suami Mbah Ndut dinikahinya dibawah tangan - kawin siri biasa disebut, atau menikah secara agama.
Ternyata salah.
Semuanya sah melalui KUA. Undang Undang Perkawinan yang mengatur proses perceraian tak berlaku buat dia. Dia tinggalkan sang suami begitu saja.
“Memangnya cuma mereka yag bisa ninggalin dan kawin lagi, saya juga bisa”, begitu katanya waktu ditanya tentang hal itu. Saya tersenyum melihat mimik Mbah Ndut yang serius.
Ada juga yang tidak bisa menerima kelakuan Mbah Ndut, terutama - Sugeng, suami ketiganya.
“Sampai sekarang dia masih marah kepada Saya dan Burhan” tambahnya. Burhan, suaminya yang keempat.
baca selanjutnya di
http://upasara.wordpress.com/2007/07/26/mbah-ndut-epilog/#more-229
Diposting oleh
peranita
di
05.04
0
komentar
Label:
kliping
Kamis, 06 September 2007
perempuan
By Tessa Simahate
Allah menciptakan manusia menjadi dua jenis yaitu perempuan dan laki-laki, agar terdapat keseimbangan dalam hidup, ketika salah seorang dari mereka membutuhkan perlindungan maka yang lain akan melindungi, ketika yang lain membutuhkan tempat untuk bersandar maka pasangannya akan menjadi tempat bersandar paling sempurna,
Tapi pada kenyataannya sekarang adalah tidak ada keseimbangan dalam hidup, laki-laki lebih mendominasi dalam mengambil keputusan sedangkan perempuan hanya menjadi follower bahkan objek bagi keputusan tersebut dan perempuan tidak berani membantah jika keputusan itu dia anggap kurang tepat. Inilah gambaran dunia modern sekarang.
Tahun 2004 ketika acara oprah winfrey show menayangkan apa yang terjadi pada perempuan di afrika, cina, India bahkan amerika sendiri mereka yang menonton pasti miris menyaksikan bagaimana perempuan tidak di muliakan di semua belahan dunia,di afrika perempuan di paksa bertunangan ketika umur delapan tahun dan menikah umur sepuluh tahun dan boleh digauli oleh suaminya ketika mereka pertama kali mendapatkan menstruasi pada umur rata-rata tigabelas tahun, al hasil mereka melahirkan dalam kondisi tubuh yang belum siap untuk melahirkan, panggul mereka masih terlalu kecil dan vagina mereka belum matang sehingga mereka harus menahan sakitnya melahirkan selama empat hari, dan biasanya bayi mereka sudah meninggal pada saat itu, ini berlangsung sampai anak ke empat sampai lima baru setelah anak ke enam mereka baru bisa melihat bayi mereka yang hidup karena pada saat mereka telah melahirkan anak ke enam umur mereka sudah mencapai delapanbelas sampai sembilan belas tahun sehingga fisik mereka sudah siap untuk proses tersebut.
Lain halnya di cina, di negar ini terdapat budaya perempuan yang mempunyai kaki yang kecil boleh di nikahi oleh pejabat negara, maka setiap keluarga berlomba lomba menyakiti dan ‘memperkecil’ kaki anak perempuan mereka, caranya mirip seperti alat yang sering di gunakan untuk merapikan gigi tapi di bentuk seperti yang diinginkan pemakai, setelah itu perempuan itu harus memakai sepatu besi ini selama 4 tahun dari umur lima sampai sembilan tahun, perempuan-perempuan ini di paksa berjalan dan beraktifitas dengan sepatu besi tersebut dan setiap hari harus di panaskan agar cepat terbentuk, dan hasilnya jari-jari dan tulangnya tidak terbentuk secara sempurna melainkan mengikuti bentuk sepatu besi tersebut dan ini melewati fase yang sangat menyakitkan dan infeksi yang berkepanjangan.
Di India, perempuan yang hendak menikah harus memberi mahar pada keluarga calon suami, dan sadisnya ketika umur perkawinan mencapai tiga sampai empat tahun mahar kembali akan diminta oleh keluarga suami sebagai bayaran karena telah tinggal di rumahnya, apabila mahar ini tidak di berikan maka sang istri akan di bakar hidup-hidup dan ironisnya angka kematian akibat di bakar suami jauh lebih tinggi daripada angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Dan pemerintah tidak bisa melakukan apapun karena mereka tidak mengakui dibakar hidup-hidup oleh suami dan pihak keluarga juga menutupi krn itu dianggap aib.
Apa yang terjadi dengan perempuan, di saat satu perempuan berhasil menjadi pembuat kebijakan malah kebijakan yang di buat menempatkan perempuan lain dalam kesulitan, merasa di jajah di dunia yang merdeka, merasa disiksa di tempat yang seharusnya dia disayang dan merasa sendiri di tempat yang seharusnya dia di lindungi,
Kenapa kebudayaan menempatkan perempuan dalam kelemahan, pihak minoritas, dan pihak inferior pihak yang selalu menjadi nomor dua, padahal keseimbangan bisa terjadi apabila perempuan dan laki-laki sadar posisi mereka equal, tidak ada pekerjaan perempuan dan laki-laki yang ada hanya sesame manusia yang saling membantu saling membutuhkan dan saling mengisi. Now its time to full fill life with balancing and equality and differences are part of life and there is no majority and minority.
visit me at http://simahate-opiniqu.blogspot.com
Diposting oleh
tessa simahate
di
11.16
1 komentar
Rabu, 05 September 2007
Daun-daun Muda Penulis Yogya
Lelaki berwajah tampan itu tampak serius membuka lembaran demi lembaran sebuah surat kabar nasional yang distribusinya sampai ke Yogyakarta. Sejurus kemudian dia berteriak kegirangan sambil mengepalkan lengannya ke atas. “Yes,” katanya. Tanpa basa-basi, koran itu langsung dibeli lalu bergegas pulang. Itulah pengalaman pertama Hurry, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat pertama kali tulisannya dimuat di media massa.
Bagi si penulis, rasa bangga, senang dan girang sudah pasti ketika tulisannya dimuat. Sebaliknya kesal dan frustrasi berkecamuk ketika tulisannya tidak dimuat. Apa yang dialami oleh Hurry di atas adalah bagian dari ekspresi kebahagiaan itu.
Di Yogyakarta, menulis seakan menjadi bagian dari aktivitas mahasiswa di luar kampus. Umumnya mahasiswa di Yogyakara, selain aktif beroraganisasi, dan berdiskusi juga rajin menulis di media massa. Tak heran jika setiap hari minggu tulisan-tulisan atas nama mahasiswa Yogyakarta hampir menghiasi setiap media massa, baik lokal maupun nasional.
Bagi Anda yang selalu membaca koran pasti sudah akrab dengan nama-nama seperti, Tasyriq Hifzillah, Muhammadun AS, Lukman Santoso Az, Zen Rahkmat Sugito, Gugun El-Guyani, M. Yunus. BS., Saiful Bari, meskipun Anda sendiri tidak pernah bertemu secara langsung dengan mereka.
Mereka itu yang tulisan-tulisannya selalu muncul di hampir setiap media massa, baik di rubrik resensi buku, sastra, opini. Nama-nama itu adalah bagian kecil dari sekian banyaknya penulis muda di Yogyakarta. Kalau dihitung secara keseluruhan jumlahnya mencapai puluhan bahkan bisa melebihi angka seratus.
Belum lagi para penulis muda yang serius membuat buku utuh, seperti Muhidin M. Dahlan penulis Tuhan Izinkan Aku Menjadi Seorang Pelacur, yang cukup kontroversial, Mohammad Al-Fayyadh penulis buku Derida, yang sukup memukau, Reny Nuryanti penulis buku Perempuan Dalam Hidup Sukarno, Herlinatien penulis buku Garis Tepi Seorang Lesbian. Mereka itu, saat menulis masih berstatus mahasiswa.
Umumnya para penulis yang disebut di atas bukanlah mereka yang punya keahlian khusus dalam bidang menulis. Mereka mengaku mengenal dunia menulis ketika berdomisili di Yogyakarta.
selengkapnya..klik judul tulisan
dikutip dari
http://lapmihmi.blogspot.com/
Diposting oleh
peranita
di
00.37
0
komentar
Label:
kliping
